Friday, May 24, 2013

Dosa 'Biasa'

DOSA 'BIASA' adalah tulisan yang dimuat di kolom Catatan Jumat Abay Abu Hamzah di Harian Radar Banjarmasin, edisi Jumat 24 Mei 2013. Silakan salin, print, fotokopi, sebarkan, atau posting di blog dan jejaring sosial, tanpa mengubah isi, dan tetap mencantumkan sumbernya.


Suatu hari, sudah lama sekali, matahari sedang terik.
Saya sedang bersepeda motor dari kampus menuju rumah. Sebagaimana
orang yang sedang naik motor, saya tidak hanya menatap lurus ke depan,
tapi juga menangkap kejadian-kejadian menarik di sisi kiri dan kanan
jalan.

***

Salah satu rute yang harus saya lewati, adalah sebuah tempat
pembuangan akhir, lengkap dengan setumpuk sampah yang busuk.

Saat melewatinya, saya menahan napas. Sebab, saya tidak mau membiarkan
aroma busuk itu masuk ke saluran pernafasan.

Begitulah, kita harus menutup diri kita dari kebusukan. Jangan biarkan
kebusukan menyusupi hati kita perlahan-lahan.

***

Jika saya yang sedang numpang lewat saja harus menahan napas agar
tidak mencium aroma busuk sampah-sampah itu, bagaimana dengan mereka
yang sehari-harinya beraktifitas di sana?

Menakjubkan. Mata saya terbelalak melihat ada yang sedang makan dengan
lahapnya di atas tumpukan sampah tersebut. Ada pula yang tertidur
dengan lelapnya, seolah aroma busuk itu tidak sedikitpun mengganggu
mereka.

***

Bagaimana mereka bisa makan dan tidur di atas tumpukan sampah? Jawaban
paling gampang adalah, sebab mereka terbiasa.

***

Apakah sejak awal mereka terbiasa? Tentu tidak. Pada permulaannya,
tentu mereka juga merasa terganggu dengan bau yang memusingkan kepala
itu.

Sehari, dua hari, seminggu, mungkin mereka masih ingin muntah setiap
ada di sana.

Namun setelah sebulan berlalu, setahun, bertahun-tahun mereka mencium
aroma busuk itu, lama kelamaan hidung mereka terbiasa.

Hingga akhirnya, bau yang pada awalnya menyiksa, dirasa biasa. Bahkan,
bisa jadi mereka mulai menikmatinya.

***

Ya, berawal dari perasaan terganggu saat pertama kali mencium aroma
busuk itu, lama-lama menjadi biasa, dan akhirnya malah bisa
menikmatinya.

Hhh...
Mungkin, begitu pula dengan perbuatan dosa.

***

Rasulullah pernah bersabda,
"Hukuman terberat bagi dosa yang dilakukan terus menerus adalah, buta hati."

***

Awalnya, saat pertama kali melakukan sebuah dosa, kita diselimuti
perasaan bersalah, gelisah, cemas, takut.

Rasanya, dosa itu demikian besar. Hingga kita merasa sulit bernapas
karena beratnya memikul dosa.

Lakukan sekali lagi. Perasaan bersalah, gelisah, cemas, dan takut itu
masih ada. Masih hampir sama dengan perasaan bersalah saat pertama
kali melakukannya.

***

Lakukan lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi.

Rasa bersalah itu masih ada. Hanya saja, perlahan-lahan kadarnya
berkurang. Dosa yang awalnya kita anggap sangat besar, perlahan-lahan
perasaan kita menganggap dosa itu tidak lagi besar.

***

Lakukan lagi. Lagi. Dan lagi.

Kini, dosa itu rasanya benar-benar kecil. Perasaan bersalah pun
semakin berkurang. Kita mulai terbiasa dengan dosa ini.

***

Lakukan lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi.

Terus menerus, dosa itu kita ulangi. Maka, perlahan namun pasti,
perasaan bersalah kita akan semakin mengecil. Hingga akhirnya, lenyap.

Itulah puncaknya. Saat dosa kita ulangi terus-menerus, maka kita akan
terbiasa. Dan pada akhirnya, kita tidak lagi menyadari bahwa yang kita
lakukan adalah dosa.

***

Bukan sekedar terbiasa dengan dosa, bisa jadi pada akhirnya, kita akan
menikmatinya.

Na'udzubillah.

***

Jazakumullah,
Abay Abu Hamzah - the MoveTivator
follow @abayabuhamzah on twitter